Jumat, 28 Maret 2014

Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIS 2013/2014

Nah! kamu pasti penasarankan sama pemilu tahun ini? Oke, tanpa basa basi kita akan membahas tentang pemilu Ketua OSIS dan Wakil Ketua OSIS tahun ajaran 2013/2014!
Sebelum diadakan pemilu, jreng jreng jreng~ terlebih dahulu dilakukan pemilihan calon ketua OSIS dan wakil ketua OSIS, kemudian para panitia pelaksanaan pemilu yang dipilih oleh pembina OSIS tahun ini, yaitu Bu Lusi dan Miss Martha a.k.a Miss Madona
Nah, inilah para calon ketua OSIS dan wakil ketua OSIS berdasarkan hasil rapat panitia pemilu dengan guru pembina OSIS.

1.     Partai Satu  -> Dean Fanggohans & Hubert Tatra
Kali ini pada partai satu ,ada Dean Fanggohans dan Hubert Tatra yang mempunyai
motto yaitu “Bersama kita pasti bisa “ dengan motto ini mereka ingin mereka bekerja bersama sama bekerja agar bisa membangun OSIS lebih baik .Pas banget nih dengan visi mereka yaitu “mewujudkan OSIS yang lebih baik bagi  OSIS “. Plus dengan misi mereka yaitu”menjaga kekompakkan sesama siswa melalui house meeting dengan memaksimalkan kinerja OSIS”. Jia you yah buat partai satu.

2. Partai Dua  -> Kevin Orlando Susanto & A. Desmon
Lanjut lagi ke partai dua, ada Kevin dengan Desmon nih..mereka punya motto “semangat menuju prestasi”, mereka mengajak kita  semangat supaya kita dapat menghasilkan prestasi yang WOW. Lalu misi mereka ”Meningkatkan solidaritas antar pelajar”. Mereka juga mau solidaritas antar kita semua makin kuat... Plus terakhir visi mereka yaitu “menggapai prestasi dengan iman dan kerja keras . ” Fighting yah partai dua.

3.     Partai Tiga -> Larosa & Windy
Dan yang terakhir adalah partai tiga. jreng jreng ada Larosa sebagai ketua lalu Windy sebagai wakil ketua. Lalu mempunyai motto yaitu “Kami ada untuk anda semua”. Cie.Mereka akan selalu ada untuk kita semua. Lalu Visi mereka  adalah “Kami akan mencari orang yang berbakat dan mengadakan study tour sekali sekali .” Mereka mau cari orang orang yang WOW, setelah itu kita bisa jalan jalan(maksud nya study tour) untuk refresing. Lalu misi mereka , “ Membangun sekolah yang lebih baik”. Dengan ada nya mereka sekolah kita makin keren untuk kedepan nya. Semangat yah buat partai tiga.

Dalam Pemilu ini, terdapat 3 TPS , TPS 1 untuk kelas 7, TPS 2 untuk kelas 8 , TPS 3 untuk kelas 9.Masing-masing TPS kira-kira terdapat 12 panitia pemilu
       
Oke, karena postingan sudah mau penuh(?) kita akan menjelaskan tentang cara Pemilu Versi Kalkud /prok prok prok/, dan penasaran bukan siapa yang menang? Kalau penasaran, baca caranya , pasti bakal tau kok





Cara-cara Memilih Versi Kalkud



1.     Sebelum PEMILU, dimulai para panitia membacakan sumpah panitia




 
      
     
      2.     Mengantri pada barisan sambil menunggu panggilan







3.     Setelah Dipanggil ,pemilih datang ke meja sekretaris untuk menandatangi surat Daftar Pemilih Tetap





4.Setelah menandatangani surat Daftar Pemilih Tetap, pemilih berjalan kemeja KPPS untuk mengambil surat suara yang telah ditanda tangani oleh KPPS






5.Setelah mengambil surat suara,pemilih kebilik suara untuk mencoblos



 


                

6.Setelah mencoblos,surat suara dilipat kembali dan dimasukkan kekotak suara



 


7.Setelah Itu pemilih melewati meja saksi



 

8.Setelah itu ke meja tinta untuk mecelupkan jari kelingking kiri sebagai tanda telah mencoblos





9.Setelah seluruh pemilih selesai mencoblos, maka masing-masing TPS menghitung jumlah suara




10.Setelah masing masing TPS selesai menghitung ,lalu dilakukan penghitungan hasil suara lagi secara bersama-sama

 



11.Setelah selesai menghitung suara ,maka ketua KPUO mengumumkan pemenang




Dan inilah pemenangnya..




Kevin Orlando Susanto & A. Desmon 

Kamis, 27 Maret 2014

Kalam Kudus



Teman – teman tau gak darimana sih terbentuknya sekolah kita, pati mau tau kan. Nah, baca dulu artikel ini. Sekolah Kristen Kalam Kudus (SKKK) adalah sebuah jaringan sekolah Kristen di Indonesia yang berada di bawah naungan Yayasan Kristen Kalam Kudus dan masih berafiliasi dengan Gereja Kristen Kalam Kudus dan Sekolah Alkitab Asia Tenggara. SKKK merupakan sekolah Kristen dengan jaringan terluas di Indonesia, mulai dari Sumatera Utara hingga Papua.
Di beberapa kota sekolah ini lengkap mulai dari taman kanak-kanak,sekolah dasarsekolah menengah pertama, hingga sekolah menengah atas, seperti di Pematang SiantarMedanPadangPekanbaruJayapura,AmbonSurabayaMalangBandungJakarta Barat, dan Surakarta, sementara di beberapa kota yang lain, seperti BadungTangerangYogyakarta,BandungBlitarPontianakPangkal PinangBatamJayapuraKeeromMimikaSorongBoneMakassarBengkalis, hanya ada jenjang tertentu saja.Jumlah sekolahnya hingga 30 Agustus 2010 adalah 93 sekolah di 17 provinsi dan 27 kabupaten/kota di Indonesia.
Sekolah kalam kudus pertaman di Indonesia adalah SKKK di Bali, SKKK Pekanbaru ternyata adalah SKKK  yg ke 74. Wah, itu berarti bahwa sebelum sekolah kita Kalam Kudus itu udah banyak cabangnya ya………….
Sekarang ayo kita persempit pandangan kita, sekarang kita lihat sekolah kita SKKK Pekanbaru. SKKK Pekanbaru ini lahir pada tanggal 3 Oktober. Bentar lagi nih sekolah kita ultah. SKKK Pekanbaru mempunyai program dan kurikulum yang bisa dibilang unggul dari sekolah lain.


Contohya ya…. Pasti semua udh tau yg namanya Wi – Fi, sekolah kita sudah memakai system Electronic-Learning atau disingkat E-Learning. Kita gak perlu lagi beli buku mahal – mahal, tinggal download aja dari blog sekolah kita. Sekolah kita juga mempunyai pel. Bimbingan Konseling. BK diperlukan untuk membentuk karakter dari murid – murid SKKK Pekanbaru.~~~Hansel.M


SUMPAH PEMUDA

Sumpah Pemuda merupakan bukti otentik bahwa pada tanggal 28 oktober 1928 Bangsa Indonesia dilahirkan, oleh karena itu seharusnya seluruh rakyat Indonesia memperingati momentum 28 oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia, proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu, kondisi ketertindasan inilah yang kemudia mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi Mengangkat Harkat dan Martabat Hidup Orang Indonesia Asli, tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945.

Rumusan Sumpah Pemuda ditulis Moehammad Yamin pada sebuah kertas ketika Mr. Sunario, sebagai utusan kepanduan tengah berpidato pada sesi terakhir kongres. Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin.


Ø Isi Sumpah Pemuda
By the way, supah pemuda dulu dibuat dengan ejaan zaman dulu (oe=u, j=y, dj=j) dan sekarang sudah disempurnakan ejaannya supaya tidak sakit mata atau keplintir lidah saat membaca.

Ini Sumpah Pemuda versi lamanya (orisinal) :
1.Pertama       : Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah                                darah satoe, tanah air Indonesia.
2.Kedoea         : Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa                                    jang satoe, bangsa Indonesia.
3.Ketiga            : Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng                                            bahasa persatoean, bahasa Indonesia.
Yang ini Sumpah Pemuda versi EYD (yang ga tau EYD, tanya sama guru B.indo) :
1.Pertama       : Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah                                              darah  satu, tanah  air Indonesia.
2.Kedua            : Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa  satu,                                    bangsa Indonesia.
3.Ketiga            : Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa                                                  persatuan,  bahasa Indonesia.


II.          SEJARAH SUMPAH PEMUDA

      Kongres Pemuda Indonesia Kedua

            Nah.. Pada kongres kedua ini, atas inisiatif Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), yang merupakan organisasi pemuda yang isinya para pelajar dari seluruh daerahA di Indonesia dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat.

1. Rapat pertama (Sabtu, 27 Oktober 1928 berlokasi di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng)). Dalam sambutannya, ketua PPPI Sugondo Djojopuspito berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Yamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan

2. Rapat kedua, (Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop), membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.

 3. Pada rapat penutup, (gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106, Sunario) menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.

             Sebelum kongres ditutup diperdengarkan lagu "Indonesia Raya" karya Wage Rudolf Supratman yang dimainkan dengan biola saja tanpa syair, atas saran Sugondo kepada Supratman. Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres. Kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia.

     Peserta Kongres

                Para peserta Kongres Pemuda II ini berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, dll. Di antara mereka hadir pula beberapa orang pemuda Tionghoa sebagai pengamat, yaitu Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie namun sampai saat ini tidak diketahui latar belakang organisasi yang mengutus mereka. Sementara Kwee Thiam Hiong hadir sebagai seorang wakil dari Jong Sumatranen Bond. Diprakarsai oleh AR Baswedan pemuda keturunan arab di Indonesia mengadakan kongres di Semarang dan mengumandangkan Sumpah Pemuda Keturunan Arab.

      Gedung Pembacaan Sumpah Pemuda

                  Bangunan di Jalan Kramat Raya 106, tempat dibacakannya Sumpah Pemuda, adalah sebuah rumah pondokan untuk pelajar dan mahasiswa milik Sie Kok Liong .Gedung Kramat 106 sempat dipugar Pemda DKI Jakarta 3 April-20 Mei 1973 dan diresmikan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, pada 20 Mei 1973 sebagai Gedung Sumpah Pemuda. Gedung ini kembali diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 20 Mei 1974. Dalam perjalanan sejarah, Gedung Sumpah Pemuda pernah dikelola Pemda DKI Jakarta, dan saat ini dikelola Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata.


Hm, tahu nggak, tahun ’65 tuh, negara kita sempat kacau lho! Waktu itu, ada yang namanya Gerakan 30 September / Partai Komunis Indonesia (G 30 S/PKI). 7 petinggi di kalangan TNI-AD di-execute oleh oknum-oknum yang nggak bertanggung jawab dari PKI saat itu. Kok bisa?? Mau tau lebih lanjut lagi? Cekidot!



Latar Belakang
        Jadi gini nih han ceritanya. Tahun ‘60an tuh, Angkatan Darat sama PKI pengaruhnya besar amat di kancah politik negara kita. Jadi, untuk rebut pengaruh dari AD, PKI ngusulin ke Presiden kita waktu itu ,Bung Karno untuk bentuk Angkatan Kelima yang berdiri sendiri di luar AD. Petinggi AD yang tahu niat busuk PKI itu, spontan aja nolak rencana pembentukan Angkatan Kelima. Karena AD nggak setuju, jadinya ada saling mencurigai antara AD dan PKI. Sebenarnya sih, back into ’63, PKI udah lakukan banyak cara untuk dapatin pengaruh di Indonesia. Yang paling jelas tuh waktu PKI hasut buruh dan petani untuk rampas tanah yang sebenarnya bukan milik mereka. Belum lagi sejak tahun ’64 Bung Karno udah mulai nggak fit. PKI sadar, kalo misalnya Bung Karno meninggal, AD yang jadi lawan mereka pasti dan akan bisa hancurin PKI. Makanya, PKI manfaatin kesempatan ini untuk dapetin kepercayaan Soekarno. Caranya? Apapun kebijakan Bung Karno, PKI pasti dukung, selama hal itu nguntungin mereka sendiri. Menurut beberapa sumber, Malaysia dan Amrik juga ada lho “kontribusinya” dalam peristiwa ini. Tapi kurang tau juga ya.. Belum ada sih bukti yang jelas tentang keterlibatan mereka.
Plus perekonomian negara kita waktu itu juga merosot banget. Semua hal itu dimanfaatin PKI untuk laksanakan rencana mereka. Memangnya apa rencana mereka? Mereka mau “lumpuhkan ” AD. Kira”, petinggi-petinggi di AD tau nggak ya? Mereka nggak tau sama sekali. Malahan waktu itu, terjadi perpecahan di AD.Lho, kok tentara bisa terpecah sih? Rupanya, waktu itu sebagian tentara dari Divisi Diponegoro ngambek sama petinggi AD yang berperang sepenuh hati lawan Malaysia dan tidak menjalankan misi Bung karno dengan sepenuh hati. Jadi mereka ada yang membelot ke PKI untuk “membersihkan” AD dari para jenderal seperti mereka. Jadilah PKI seperti full-equiped.
Persiapan
Kira-kira September ’65, muncul isu “Dewan Jenderal” yang menuding bahwa ada beberapa petinggi AD yang nggak puas tuh ama Bung Karno, en bermaksud rebut kekuasaan dengan bantuan Amrik. Belum lagi waktu itu ada yang nyebarin isu “Gilchrist Document”  yang nyatain ada petinggi AD yang ‘dibeli’ oleh pihak barat. Padahal, gilchrist Document tu sebenarnya hanya sebuah dokumen yang (konon katanya) dipalsukan oleh Intelijen Ceko dibawah pengawasan Jenderal Soviet. Onde mande... Dua isu ini, akhirnya mancing Bung Karno jadi curiga deh sama AD. Padahal di awal taun ‘60an, petinggi AD tuh udah ingatin Bung Karno untuk waspada sama ‘ulah-ulah’ PKI. Men/Pangad kita waktu tuh, Letjen Ahmad Yani juga secara tegas meyakinkan Bung Karno bahwa nggak ada yang namanya Dewan Jenderal. Yang ada tuh Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi (Wanjakti) yang tugasnya tuh untuk ngusulin Men/Pangad tentang promosi/kenaikan jabatan. Bung Karno waktu itu sih masih percaya aja sama AD. Tapi, karena 2 isu tadi, gimana Bung Karno nggak curiga ama AD yah?
                Di bulan Juli sampe September 1965, PKI udah siap-siapin pasukan mereka yang mayoritas kader en  simpatisan PKI di Lubang Buaya, Jakarta. Mereka nggak diasramakan, tapi mereka tinggal di rumah warga yang ada di sekitar situ. Selama itu pula mereka dibagikan tugasnya. Ada yang tugasnya nangkap petinggi AD, mereka disebut Pasukan Pasopati. Yang disuruh rebut tempat penting, kayak Monas en Gedung RRI Jakarta, itu namanya Pasukan Bima Sakti.

Aksi
PKI nggak mau nunda lama-lama lagi nih. Pas persiapan dinilai udah cukup, mereka langsung bergerak. Dibawah pimpinan Letkol Untung, yang notabene nya Komandan Batalion I Cakrabirawa (Pengawal Presiden), mereka langsung bergerak ke sasaran yang sudah ditetapkan. Saking rapinya persiapan mereka, semua target berhasil mereka “bersihkan”. Hanya, sasaran utama mereka, Jenderal A.H. Nasution waktu itu berhasil selamat. Sayangnya, selamatnya Jenderal Nasution nih, mesti dibayar mahal. Anaknya, Ade Irma Suryani, dan ajudannya, Lettu Piere Tendean yang jadi korban. Kasian.. Dari tujuh target mereka, tiga diantara mereka udah meninggal duluan saat ditangkap (Letjen Ahmad Yani, Mayjen MT Haryono, Brigjen DI Panjaitan). Empat lainnya (Mayjen Suprapto, Mayjen Mayjen S. Parman, Brigjen S. Siswomiharjo dan Lettu Piere Tendean). Yang masih hidup tuh, disiksa dulu baru ditembak mati. Hiii.. kejamnya PKI nih ya? Nggak cukup lagi, semua jenazah petinggi AD tadi tu,  dibuang ke sumur yang ada di Lubang Buaya (ada tuh gambarnya di atas). Nih nama-nama petinggi AD yang jadi korban G 30 S/PKI:
·         - Letjen Ahmad Yani, Men/Pangad
·         - Mayjen S. Parman, Asisten I Men/Pangad
·         - Mayjen Suprapto, Deputi II Men/Pangad
·         - Mayjen MT. Haryono, Deputi III Men/Pangad
·         - Brigjen DI Panjaitan, Asisten IV Men/Pangad
·         - Brigjen S. Siswomiharjo, Inspektur Kehakiman AD
·         - Lettu Piere Tendean, Ajudan Jenderal AH. Nasution
            Pasukan Bima Sakti yang waktu itu disuruh rebut gedung RRI, malahan siarkan ke publik bahwa G 30 S/PKI tuh gerakan intern dalam AD untuk “bersihkan” Dewan jenderal. Lalu mereka ngumumin pembentukan Dewan Revolusi plus Pendemisioneran Kabinet Dwikora. Hal ini justru buat masyarakat bingung.

Penumpasan
Lah, jadi gimana nih nasib AD? Masa dibiarin hancur gitu aja? Karna waktu itu Men/Pangad, Letjen A. Yani nggak diketahui nasibnya, pimpinan AD diambil alih sama Pangkostrad, Mayjen Soeharto. Dia ngumpulin dulu pasukan AD yang setia sama pemerintah, baru dia tumpas tu G 30 S/PKI. Pertama mereka rebut dulu Studio RRI Jakarta. Usaha mereka berhasil, lalu mereka lanjut ke wilayah Lubang Buaya, dan menyerbu Batalion 454/Diponegoro yang mihak ke PKI, dan mereka berhasil lagi.
Semua hal nampaknya berjalan lancar untuk AD. Seorang polisi yang diculik PKI waktu Brigjen DI Panjaitan diculik, Sukitman, berhasil lolos. Dia laporin tuh tempat penguburan jenazah petinggi AD yang diculik. 3 Oktober 1965, tim AD yang dipimpin Kol Sarwo Edhi Wibowo (Komandan RPKAD) langsung bergerak ke wilayah yang ditunjukkan Sukitman. Namun karena kesulitan teknis, mereka nggak jadi menggali sumur yang dijadikan kuburan para petinggi AD itu. Besoknya, dibantu Marinir, mereka berhasil mengangkat tujuh jenazah petinggi AD. Besoknya, 5 Okt 1965, ketujuh jenazah itu dimakamkan di TMP Kalibata,  bertepatan dengan HUT ABRI ke-20. Petinggi AD yang gugur itu kemudian digelari Pahlawan Revolusi dan dianugerahi kenaikan pangkat secara anumerta.
         Sadar nggak sadar, rupanya G 30 S/PKI juga terjadi di Yogyakarta. Danrem 072 Yogyakarta, Kol Katamso sama Kastaf Korem 072, Letkol Sugiyono diculik dan dibunuh sama pendukung PKI. Jenazah mereka ditemukan beberpa hari kemudian di Sleman.

Pasca Kejadian
                Masyarakat yang kemudian sadar bahwa semua itu merupakan aksi G 30 S/PKI juga jadi dukung AD. Saat AD menumpas petinggi dan pendukung PKI, masyarakat yang terdiri dari mahasiswa, pelajar dan kalangan umum mendukung dengan berdemonstrasi mengajukan Tritura (Tri Tuntutan Rakyat). Waktu itu mahasiswa buat organisasi yang dinamakan KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia). 10 Januari 1966, mereka menuntut pemerintah untuk bubarkan PKI, bersihkan kabinet Dwikora dari unsur-unsur PKI, dan menurunkan harga barang. 
                Yang parahnya, pemerintah malah nggak mau dengarin Tritura. Malahan pemerintah merombak Kab. Dwikora jadi Kab. Dwikora yang Disempurnakan. Hal ini malah buat mahasiswa dan masyarakat makin nggak puas ama Bung Karno. Aksi demon mereka makin meluas. Mereka memblokir jalan-jalan, dan berdemonstrasi di Istana Merdeka tanggal 24 Februari 1966. Puncaknya, seorang mahasiswa bernama Arief Rachman Hakim gugur karena tertembak. Sehari setelah itu, pemerintah membubarkan KAMI. Hal ini malah memperparah keadaan, mahasiswa membentuk yang namanya Laskar Arief Rachman Hakim(LARH), dan berdemonstrasi lebih luas lagi.
                Di mana AD saat itu? AD yang nampak kecewa sama pemerintah, namun tetap setia, ikut mendukung demonstrasi yang dilakukan mahasiswa. Sikap AD waktu itu,
·         Kodam di Indo melarang pembentukan Barisan Soekarno di wilayahnya masing-masing
·         Kodam Jaya melindungi mahasiswa mantan anggota KAMI saat membentuk LARH
Pemerintah mulai sadar bahwa masyarakat udah nggak bisa terkontrol lagi emosinya. Parahnya, Bung Karno malah minta parpol kutuk aksi Tritura pula. Untung saja, waktu itu parpol nolak untuk mengutuk aksi tersebut.  Akhirnya, Bung Karno ngeluarkan surat perintah yang dikenal dengan “Surat Perintah 11 Maret” (Supersemar). Supersemar tuh isinya memerintahkan Men/Pangad yang baru, Soeharto untuk membubarkan PKI dan ormas-ormasnya, dan menyatakan PKI sebagai partai terlarang. Juga untuk mengamankan menyer yang diduga terlibat atau bersimpati dalam G 30 S/PKI. Terakhir, Soeharto ditugaskan untuk membersihkan MPRS dari unsur-unsur PKI.
        Dengan dikeluarkannya Supersemar, maka sampe sini dulu ya cerita tentang G 30 S/PKI ya.

        Tau nggak gambar apa ini??? Nih dia Monumen Revolusi yang dibangun untuk memperingati gugurnya 7 pahlawan revolusi dalam mempertahankan Pancasila


 Searah jarum jam : Jend (Anumerta) A.Yani, Letjen (Anumerta) R. Suprapto, Letjen (Anumerta) S. Parman, Letjen (Anumerta) MT. Haryono, Kapten (Anumerta) Pierre Tendean, Mayjen (Anumerta) S. Siswomiharjo, dan Mayjen (Anumerta) DI Panjaitan